Fiskal PPU Tertekan, DPRD Sebut Ruang Perjuangkan Aspirasi Warga Makin Sempit

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 20:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Komisi II DPRD PPU, Jamaludin

Sekretaris Komisi II DPRD PPU, Jamaludin

INFONUSA.CO, PENAJAM – Tekanan fiskal Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai berdampak pada kemampuan DPRD memperjuangkan aspirasi masyarakat. Keterbatasan anggaran membuat tidak semua usulan yang dihimpun melalui reses maupun kunjungan ke daerah pemilihan dapat diterjemahkan menjadi program pembangunan.

Sekretaris Komisi II DPRD PPU, Jamaludin, mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan kebijakan efisiensi anggaran yang turut mempersempit ruang belanja pemerintah daerah. Padahal, menurutnya, anggota DPRD memiliki kewenangan untuk menyerap aspirasi masyarakat melalui reses, kunjungan ke daerah pemilihan, hingga pertemuan dengan konstituen. Aspirasi tersebut kemudian dituangkan dalam pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD dan diselaraskan dengan perencanaan pembangunan daerah.

“Kami ini yang ada di DPR dalam konteks ini punya hak secara undang-undang, yang namanya pokok-pokok pikiran,” kata Jamaludin.

Ia menjelaskan, pokir DPRD tidak lahir tanpa proses. Usulan diperoleh langsung dari masyarakat melalui berbagai kegiatan di lapangan, termasuk reses dan kunjungan ke konstituen. Aspirasi juga berasal dari proses musyawarah perencanaan pembangunan mulai tingkat kelurahan hingga kecamatan. Selanjutnya, seluruh usulan tersebut harus disesuaikan dengan visi-misi kepala daerah serta prioritas pembangunan yang ditetapkan pemerintah.

Namun, persoalan muncul ketika ruang fiskal daerah semakin terbatas. DPRD tidak bisa leluasa memperjuangkan seluruh kebutuhan yang disampaikan masyarakat karena kemampuan anggaran untuk membiayai usulan tersebut ikut menyusut.

“Nggak bisa lagi kami perjuangkan. Karena kenapa? Anggaran tidak bisa lagi kami dapatkan untuk usulan dari daerah kami,” ujarnya.

Jamaludin mengatakan kondisi tersebut membuat DPRD harus menyesuaikan aspirasi masyarakat dengan program yang telah menjadi prioritas pemerintah daerah. Dukungan terhadap program pemerintah tetap diberikan, tetapi pilihan program yang dapat dibiayai menjadi semakin terbatas.

“Yang ada sekarang bagaimana kita support yang cuma ada di pemerintah dan itu pun terbatas,” katanya.

Menurutnya, persoalan tersebut pada akhirnya tidak hanya menyangkut ruang DPRD dalam menjalankan fungsi representasi. Masyarakat juga terdampak karena semakin banyak usulan pembangunan yang tidak dapat diterjemahkan menjadi program konkret.

Jamaludin menilai kebijakan efisiensi perlu dilihat berdasarkan dampaknya terhadap kemampuan pemerintah daerah memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika pengurangan anggaran membuat daerah kehilangan ruang untuk membiayai kebutuhan dasar dan pembangunan, evaluasi terhadap kebijakan tersebut dinilai diperlukan.

“Saya katakan terus terang tidak memihak ke masyarakat secara luas,” ujarnya.

Di tengah tekanan fiskal tersebut, Jamaludin mendorong PPU mulai mengurangi ketergantungan terhadap transfer pemerintah pusat. Menurutnya, daerah perlu memperkuat sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar memiliki ruang fiskal yang lebih besar. Ketergantungan terhadap Dana Bagi Hasil (DBH), kata dia, membuat kemampuan keuangan daerah rentan terhadap perubahan kebijakan transfer dan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.

Karena itu, pemerintah daerah dinilai tidak cukup hanya melakukan pengendalian belanja. Potensi ekonomi lokal juga perlu dikembangkan untuk menciptakan sumber penerimaan baru. Salah satu sektor yang sebelumnya didorong Jamaludin adalah pariwisata yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sumber PAD. Menurutnya, tekanan anggaran semestinya menjadi momentum bagi PPU untuk melihat kembali struktur pendapatannya. Semakin besar ketergantungan terhadap sumber dana dari luar daerah, semakin terbatas pula ruang pemerintah ketika terjadi perubahan kebijakan fiskal.

“Persoalan anggaran saat ini bukan hanya soal berapa besar dana yang tersedia, tetapi juga mengenai sejauh mana daerah memiliki kendali atas sumber pendapatannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (ADV/N/DPRDPPU)

Berita Terkait

Karhutla Terus Berulang di PPU, DPRD Dorong Penyebab Kebakaran Diusut
Karhutla Masuk Area Konsesi, DPRD PPU Minta Perusahaan Tak Hanya Padamkan Api
Kartu Penajam Cerdas Belum Cair, DPRD PPU Akan Panggil Dinas Pengampu
Pemekaran PPU Ditarget Tuntas 2027, Babulu Tetap Lewat Jalur Mendagri
SPBU Baru Benuo Taka Diwacanakan, DPRD PPU Minta Kebutuhan dan Kuota Diperjelas
Penduduk PPU Tembus 200 Ribu, Kursi DPRD Berpotensi Bertambah Jadi 30
Kewenangan Daerah Makin Terbatas, DPRD PPU Soroti Dampaknya bagi Nelayan
Dana Bank Manfaat Tak Berputar, DPRD PPU Minta yang Mengendap Dikembalikan ke Kas Daerah
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 20:44 WIB

Karhutla Terus Berulang di PPU, DPRD Dorong Penyebab Kebakaran Diusut

Selasa, 8 September 2026 - 21:11 WIB

Karhutla Masuk Area Konsesi, DPRD PPU Minta Perusahaan Tak Hanya Padamkan Api

Selasa, 8 September 2026 - 21:08 WIB

Kartu Penajam Cerdas Belum Cair, DPRD PPU Akan Panggil Dinas Pengampu

Senin, 7 September 2026 - 21:03 WIB

Pemekaran PPU Ditarget Tuntas 2027, Babulu Tetap Lewat Jalur Mendagri

Senin, 7 September 2026 - 21:01 WIB

SPBU Baru Benuo Taka Diwacanakan, DPRD PPU Minta Kebutuhan dan Kuota Diperjelas

Berita Terbaru

Foto: Eksebisi Gulat Tradisional Benjang pada Pembukaan Oltrad Erau Adat Kutai 2026

Pemkab Kukar

Dispora Kukar Buka Ruang Benjang Tampil di Tingkat Kecamatan

Rabu, 23 Sep 2026 - 18:26 WIB

Foto: Plt. Kepala Disperindag Kukar, Buhanuddin.

Pemkab Kukar

Pemkab Kukar Kaji Legalitas Pungutan Parkir Tangga Arung

Selasa, 22 Sep 2026 - 18:42 WIB