Infonusa.co, Samarinda – Seiring perkembangan kehidupan sosial dan budaya, peran pemuda dalam organisasi dinilai mengalami kemunduran. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk meningkatkan kualitas generasi muda melalui keaktifan berorganisasi.
Salah satu faktor yang melatarbelakangi kemunduran ini adalah perkembangan teknologi. Banyak pemuda yang kini lebih sibuk bermain game, menonton konten di media sosial melalui fitur explore dengan durasi yang cukup lama, hingga terpengaruh oleh konten yang memberikan citra buruk terhadap organisasi.
Sub Koordinator Kepemimpinan, Kepeloporan, dan Kemitraan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur, Rusmulyadi, mengungkapkan kegelisahannya melihat rendahnya kesadaran pemuda di Kaltim untuk aktif dalam organisasi.
Bang Mul, sapaan akrabnya, menyayangkan aktivitas pemuda yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar di organisasi demi meningkatkan kapasitas diri dan mempersiapkan masa depan, justru banyak tersita untuk kegiatan yang minim manfaat.
“Ini PR sebenarnya, PR itu begini, kalau pemuda itu tidak berorganisasi sekarang atau tidak melakukan hal-hal lain atau monoton aja hidupnya, hanya mager di tempat, maka itu akan merugikan dia di masa depan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, banyak hal yang bisa diperoleh dari berorganisasi, mulai dari peningkatan kemampuan kepemimpinan hingga membangun silaturahmi yang dapat memperkuat pengalaman melalui jaringan.
“Membangun silaturahmi itu melalui organisasi. Bagaimanapun, kamu kalau tidak berorganisasi, maka ruang lingkup yang kenal dikenal hanya di sekolah atau hanya di lingkungan sekitar,” jelasnya.
“Tapi kalau berorganisasi, maka akan kenal berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda. Itu akan membantu di masa depan. Ya, bisa aja ada peluang kerja atau peluang yang lain,” timpal Rusmulyadi.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Ronni Hidayatullah juga menilai adanya kemunduran peran pemuda dalam organisasi. Padahal, keberadaan organisasi seharusnya bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Ia mencontohkan Kota Samarinda sebagai ibu kota provinsi yang memiliki banyak perguruan tinggi, semestinya selaras dengan peran aktif pemuda dalam organisasi untuk menimba ilmu dan pengalaman.
“Kalau kita lihat, jumlah mahasiswa di Samarinda itu ribuan. Tapi sayangnya, yang benar-benar aktif di organisasi jumlahnya sangat sedikit. Padahal organisasi ini bukan hanya tempat kumpul, tapi wadah untuk belajar manajemen, kepemimpinan, dan membangun relasi,” ujarnya.
Ronni mengungkapkan, organisasi kepemudaan (OKP) di Samarinda juga menghadapi kendala yang sama, yakni kesulitan dalam merekrut anggota baru.
“Ini tantangan bersama. Kalau pemuda tidak kita dorong dari sekarang untuk aktif, maka ke depannya akan sulit mencari kader yang punya kapasitas dan jiwa kepemimpinan,” tambahnya.









