Infonusa.co, Samarinda – Munculnya berbagai nama sekolah baru seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) mendapat perhatian dari DPRD Kota Samarinda. Pihak dewan menilai pemerintah sebaiknya fokus menyesuaikan kurikulum sekolah dengan kebutuhan dunia kerja, bukan sekadar mengganti nama atau konsep sekolah.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, menyebut masalah utama pendidikan saat ini adalah ketidakcocokan antara pelajaran di sekolah dan kebutuhan dunia industri. Menurutnya, hal ini menjadi alasan utama banyaknya lulusan sekolah yang menganggur.
”Paling penting adalah mengubah kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Di situ masalah utamanya,” kata Anhar.
Ia menilai pelajaran di sekolah saat ini masih terlalu fokus pada teori. Akibatnya, siswa kurang dibekali keterampilan praktis (hard skill dan soft skill) yang dibutuhkan perusahaan.
”Sering kali apa yang dipelajari di sekolah tidak sesuai dengan yang dicari perusahaan. Akhirnya lulusan kita kesulitan mendapat pekerjaan,” ujarnya.
Anhar juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari megahnya gedung sekolah atau kualitas guru. Pemerintah juga harus memastikan para lulusan bisa langsung terserap di dunia kerja.
”Jangan hanya fokus membangun sekolah bagus dan meningkatkan kualitas guru. Yang tidak kalah penting adalah memastikan lulusannya punya peluang kerja,” tegasnya.
Selain itu, Anhar mempertanyakan maksud dari penggunaan nama-nama sekolah baru yang bermunculan. Menurutnya, konsep tersebut belum memiliki perbedaan yang jelas dengan sekolah yang sudah ada.
”Saya belum melihat perbedaan mendasar dari istilah Sekolah Rakyat. Pada dasarnya semua sekolah negeri dibuat untuk melayani rakyat,” jelasnya.
Anhar turut membandingkan sistem pendaftaran sekolah (PPDB) saat ini yang dinilai makin rumit dan membingungkan orang tua murid, berbeda dengan dulu yang lebih sederhana.
Oleh karena itu, Anhar mendorong pihak sekolah dan dunia usaha untuk bekerja sama menyusun kurikulum. Dengan begitu, sekolah tidak hanya mencetak lulusan berijazah, tetapi melahirkan sumber daya manusia yang siap kerja. (San/Adv)









