Infonusa.co, Samarinda – Proyek revitalisasi Pasar Pagi Samarinda yang menelan anggaran hingga Rp468,5 miliar belum berdampak manis bagi para pedagang. Kendati gedung baru telah difungsikan, kondisi pasar terpantau masih sepi pengunjung dan belum mampu mendongkrak omzet penjualan para pedagang.
Fakta memprihatinkan ini ditemukan langsung oleh Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, saat menggelar inspeksi mendadak ke Pasar Pagi. Setelah mengitari gedung dari lantai dasar hingga lantai teratas, ia mendapati banyak kios yang masih tutup dan minim interaksi jual beli.
”Ada pedagang yang mengeluh sudah tiga bulan tidak pecah telur atau belum ada pembeli sama sekali. Ada juga yang cuma dapat satu transaksi dalam sepekan. Kondisi ini ironis,” kata Iswandi, belum lama ini.
Iswandi menegaskan, investasi besar pemerintah daerah seharusnya bisa menggerakkan iklim ekonomi warga secara instan, bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik yang megah.
Selain sepinya pembeli, Iswandi mengkritik sistem zonasi dan pembagian kios yang terkesan tidak efisien. Banyak pedagang yang mendapatkan lebih dari satu lapak, tetapi letaknya berjauhan sehingga membengkakkan biaya operasional.
Tak berhenti di situ, kualitas fisik bangunan baru juga mulai dikeluhkan akibat adanya titik bocor dan rembesan air hujan di beberapa area pasar.
Menindaklanjuti temuan lapangan tersebut, Komisi II DPRD Samarinda berencana memanggil instansi teknis terkait sebelum akhir Agustus 2026. Lintas instansi seperti Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Dinas PUPR, Inspektorat, serta perwakilan pedagang akan duduk bersama mencari akar masalah.
”Tujuan kami bukan mencari siapa yang salah, melainkan mengevaluasi tata kelola kios, jalur lalu lintas, hingga promosi agar Pasar Pagi kembali ramai dan pedagang bisa hidup layak,” pungkas Iswandi. (San/Adv)









