Lonjakan Harga Tomat dan Cabai, DPRD PPU Soroti Lemahnya Pengelolaan Pertanian Hortikultura

- Jurnalis

Jumat, 1 Agustus 2025 - 21:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Komisi II DPRD PPU, Thohiron,

Ketua Komisi II DPRD PPU, Thohiron,

Infonusa.co, PPU Kenaikan harga komoditas pangan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), khususnya tomat dan cabai, kembali menjadi perhatian DPRD. Ketua Komisi II DPRD PPU, Thohiron, menilai persoalan ini berakar pada lemahnya sistem pengelolaan sektor hortikultura di daerah.

Data terkini mencatat, harga tomat naik hingga 68 persen, sementara cabai (lombok) meningkat sekitar 39 persen. Thohiron menyebut lonjakan tersebut dapat diminimalkan jika pemerintah daerah memiliki strategi pertanian berbasis riset dan perencanaan pola tanam yang lebih matang.

“Dinas terkait seharusnya sudah mampu memetakan kapan waktu terbaik menanam tomat atau lombok. Tapi kenyataannya belum ada langkah konkret yang dilakukan,” ujarnya, Senin (1/8/2025).

Menurutnya, pendekatan pertanian yang masih konvensional membuat sektor hortikultura rentan fluktuasi. Sebab, keberhasilan komoditas ini sangat bergantung pada musim, kondisi cuaca, dan pola penanaman yang terukur.

“Kita tidak bisa lagi bertumpu pada cara lama. Pemerintah harus berani menggandeng lembaga riset atau konsultan pertanian yang mumpuni. Ini bukan soal coba-coba, tapi menyangkut ketahanan pangan,” tegasnya.

Thohiron juga mengingatkan posisi strategis PPU sebagai salah satu daerah penopang kebutuhan pangan Kalimantan Timur, terlebih dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang semakin berkembang. Namun, potensi tersebut disebutnya tidak akan maksimal tanpa hilirisasi yang jelas.

“Kalau tidak ada hilirisasi, petani hanya akan jadi korban permainan harga. Mereka menanam, panen, tapi bingung siapa yang menampung dan berapa harganya,” ujarnya.

Ia mendesak Pemkab PPU menyiapkan peta jalan hilirisasi pertanian terpadu, mulai dari penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil, distribusi, hingga jaminan pemasaran agar petani memiliki kepastian pendapatan.

“Petani akan bekerja dengan tenang jika hasil tanamannya dihargai layak. Tanpa itu, kita hanya mengulang masalah yang sama setiap tahun,” tutupnya.(aw/adv/dprd/ppu)

Berita Terkait

Dukung Layanan Digital dan WiFi Gratis, Suparno Minta Anggaran Diskominfo Ditambah pada 2027
Jumlah Kendaraan Tembus 1 Juta Lampaui Populasi Warga, DPRD Samarinda Desak Transportasi Massal Hadir 2027
Iswandi Dorong 59 Koperasi Merah Putih Kelola Distribusi LPG 3 Kg dan Tak Saingi UMKM di Samarinda
Banggar DPRD Samarinda Yakin PAD Dapat Mencapai 1,5 Triliun di Tahun 2027
Anggaran Berasal dari Pusat, Anhar Pastikan Sekolah Rakyat Tetap dalam Pengawasan ​
Kabel Hilang Akibatkan Jembatan Gelap, DPRD Samarinda Dorong Perbaikan LPJU Achmad Amins Masuk APBD Perubahan
Laporan Kekerasan Anak Turun Drastis, Sri Puji Minta Pemkot Tetap Waspada Fenomena Gunung Es
Cegah Intrusi Air Laut, Helmi Abdullah Minta Warga Bijak Gunakan Air dan PDAM Jaga Produksi
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:22 WIB

Dukung Layanan Digital dan WiFi Gratis, Suparno Minta Anggaran Diskominfo Ditambah pada 2027

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:18 WIB

Jumlah Kendaraan Tembus 1 Juta Lampaui Populasi Warga, DPRD Samarinda Desak Transportasi Massal Hadir 2027

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:15 WIB

Iswandi Dorong 59 Koperasi Merah Putih Kelola Distribusi LPG 3 Kg dan Tak Saingi UMKM di Samarinda

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:14 WIB

Banggar DPRD Samarinda Yakin PAD Dapat Mencapai 1,5 Triliun di Tahun 2027

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:11 WIB

Anggaran Berasal dari Pusat, Anhar Pastikan Sekolah Rakyat Tetap dalam Pengawasan ​

Berita Terbaru