Tingginya Pernikahan Anak di Kaltim, Damayanti Dorong Edukasi Reproduksi Masuk Kurikulum Sekolah

- Jurnalis

Selasa, 22 Juli 2025 - 19:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti.

Infonusa.co, Samarinda – Angka pernikahan anak di Kalimantan Timur (Kaltim) masih cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim, sepanjang 2025 tercatat 288 kasus pernikahan anak di bawah usia 19 tahun, dengan Balikpapan sebagai daerah dengan angka tertinggi.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti, menilai salah satu faktor utama tingginya kasus tersebut adalah minimnya edukasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja.

“Banyak anak-anak kita yang belum memahami tanggung jawab reproduksi. Mereka belum siap secara mental maupun fisik, sehingga risiko KDRT, stunting, hingga putus sekolah semakin besar,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD), Senin (21/7/2025).

Damayanti juga menyoroti peran KPAD yang dianggap belum maksimal dalam menangani persoalan krusial ini, meski lembaga tersebut mendapatkan dukungan anggaran hingga Rp500 juta per tahun.

“Kalau kita lihat di lapangan, yang responsif justru tim TRC PPA. Sementara KPAD terkesan pasif. Ini jadi catatan penting, karena lembaga tidak cukup hadir secara administratif, tapi juga harus bekerja nyata,” tegasnya.

Ia mendorong KPAD melakukan pembenahan internal, memperkuat sinergi lintas sektor, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya agar lebih responsif terhadap isu-isu perlindungan anak.

“Anggaran besar harus berbanding lurus dengan program nyata. Jangan hanya di atas kertas, tapi harus sampai ke masyarakat,” lanjutnya.

Sebagai langkah preventif, Damayanti mengusulkan adanya kolaborasi antara KPAD dan Dinas Pendidikan untuk merancang program edukasi kesehatan reproduksi sejak jenjang sekolah dasar hingga menengah.

“Permasalahan pernikahan dini tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja. Perlu pendekatan terintegrasi agar edukasi masuk ke ruang kelas, supaya anak-anak lebih siap menghadapi masa depan,” pungkasnya.(San/Adv/DPRDKaltim)

Berita Terkait

RS Bhakti Nugraha Samarinda Tutup Permanen, DPRD Pastikan Layanan Kesehatan Warga dan Nasib Nakes Aman
Sektor Wisata Alam Samarinda Mati Suri, DPRD Desak Pemkot Garap Serius Gunung Steling hingga Sungai Karang Mumus
DPRD Samarinda ajak Mahasiswa Tak Sekadar Kritik, Tapi Ikut Kawal Kebijakan Daerah
DPRD Samarinda Desak OPD Segera Tindak Perusahaan Peraih Rapor Merah Lingkungan dari KLHK
DPRD Samarinda Minta Pemerintah Bina Relawan Lalu Lintas: Beri ID Card Resmi dan Jaminan Kesehatan
Zonasi Kerap Diabaikan, DPRD Samarinda Sebut Pola Pikir ‘Sekolah Favorit’ Masih Sulit Diubah
DPRD Samarinda Minta OPD Jangan Malu Curhat Soal Minimnya Anggaran dan Fasilitas Pelayanan
Sampah Menumpuk Bukan Melulu Soal Kinerja, DPRD Samarinda Minta Evaluasi Total Armada DLH
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 18:39 WIB

RS Bhakti Nugraha Samarinda Tutup Permanen, DPRD Pastikan Layanan Kesehatan Warga dan Nasib Nakes Aman

Kamis, 18 Juni 2026 - 18:38 WIB

Sektor Wisata Alam Samarinda Mati Suri, DPRD Desak Pemkot Garap Serius Gunung Steling hingga Sungai Karang Mumus

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:35 WIB

DPRD Samarinda Desak OPD Segera Tindak Perusahaan Peraih Rapor Merah Lingkungan dari KLHK

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:33 WIB

DPRD Samarinda Minta Pemerintah Bina Relawan Lalu Lintas: Beri ID Card Resmi dan Jaminan Kesehatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:31 WIB

Zonasi Kerap Diabaikan, DPRD Samarinda Sebut Pola Pikir ‘Sekolah Favorit’ Masih Sulit Diubah

Berita Terbaru