Infonusa.co, Samarinda — Di tengah derasnya arus budaya asing dan kemajuan teknologi digital, Dinas Pemuda dan Olahraga Kalimantan Timur (Dispora Kaltim) menaruh perhatian serius pada upaya melestarikan olahraga tradisional. Langkah ini dianggap penting agar permainan rakyat yang dulu akrab dengan kehidupan masyarakat tidak hilang ditelan zaman.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, Bagus Surya Saputra Sugiarta, mengungkapkan bahwa pihaknya kini gencar melakukan sosialisasi sekaligus menggelar berbagai kejuaraan olahraga tradisional.
“Kalau tidak kita dorong, dampaknya sedikit demi sedikit akan terkikis. Maka dari itu, kami rutin menggelar kegiatan dan event olahraga tradisional,” ujarnya.
Menurut Bagus, olahraga yang dulu sempat populer seperti layangan, kasti, hingga hadang menjadi salah satu fokus yang akan dihidupkan kembali. Ia bahkan mengenang masa kecilnya ketika permainan itu begitu melekat di lingkungan sekolah.
“Dulu waktu saya SD, permainan ini sangat populer, tapi sekarang sudah hampir tidak ada,” kenangnya.
Dispora Kaltim berencana melaksanakan program pelestarian secara bertahap mulai 2026 mendatang. Langkah ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai olahraga khas daerahnya.
Lebih lanjut, Bagus menjelaskan bahwa olahraga masyarakat memiliki wadah berbeda dibanding olahraga prestasi. Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI), misalnya, menaungi 98 Induk Organisasi Olahraga (Inorga) yang mewakili berbagai jenis olahraga rekreasi dan tradisional. Jumlah ini jelas berbeda dengan Cabang Olahraga (Cabor) yang berfokus pada olahraga prestasi.
“Kalau dilihat dari penetapan KORMI, ada 98 Inorga. Inorga ini dianggap cabang olahraga, tapi bedanya dengan Cabor adalah tujuannya. Inorga berasal dari masyarakat, sedangkan Cabor lebih kepada prestasi,” tegas Bagus.
Saat ini, proses seleksi terhadap 98 Inorga telah dilakukan Dispora Kaltim untuk menyaring jenis olahraga yang paling tinggi peminatnya di daerah. “Kami pilah lagi, mana yang kira-kira bisa diterima dan diminati masyarakat Kaltim,” tambahnya.
Upaya ini diharapkan tak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan lintas generasi. Olahraga tradisional diyakini mampu menghubungkan kembali nilai kebudayaan, sekaligus menjadi alternatif rekreasi yang sehat bagi masyarakat Kaltim. (Ina/Adv/DisporaKaltim)









