Infonusa.co, Samarinda — Bukan sekadar perjalanan singkat atau kunjungan wisata, program pertukaran pemuda yang kembali digelar tahun ini membawa misi lebih dalam: membangun kesadaran kebangsaan melalui pengalaman nyata hidup bersama masyarakat di pelosok desa.
Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur menyebut program ini sebagai “sekolah kehidupan” bagi generasi muda. Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Pengembangan Pemuda, Rusmulyadi, menegaskan bahwa setiap provinsi akan mengirimkan delegasi yang akan tinggal di desa-desa, menyatu dengan keseharian warga.
“Di sana, mereka tidak hanya belajar budaya, tapi ikut menanam, memasak, mengajar anak-anak, bahkan tidur di rumah-rumah penduduk. Nilai kebangsaan tumbuh dari pengalaman sederhana itu,” ungkapnya.
Menurutnya, pengalaman seperti ini tak bisa diperoleh dari bangku kelas. Tahun lalu, misalnya, pemuda Kaltim yang dikirim ke Kalimantan Selatan dan Bengkulu pulang dengan cerita-cerita tentang kebersamaan di sawah, pelajaran adat lokal, hingga cara warga setempat menjaga harmoni.
Seleksi untuk delegasi Kaltim tahun ini akan segera dibuka. Pemuda berusia 16–30 tahun dipersilakan mendaftar. Seleksi bukan hanya soal kelengkapan administrasi, tapi juga pengujian komitmen.
“Kami ingin melihat siapa yang benar-benar siap terjun langsung, bukan sekadar ikut acara seremonial,” jelas Rusmulyadi.
Program pertukaran ini, lanjutnya, menjadi wadah untuk menumbuhkan sikap disiplin, keberanian beradaptasi, dan jiwa kepemimpinan. “Pemuda yang berangkat, pulang bukan sebagai orang yang sama. Mereka kembali dengan perspektif baru tentang Indonesia yang beragam,” tambahnya.
Dispora Kaltim pun mengajak pemuda-pemudi daerah ini untuk berani mengambil kesempatan. “Setiap langkah kecil mereka di desa tujuan, pada akhirnya adalah kontribusi besar untuk mempererat persaudaraan antarbangsa,” pungkas Rusmulyadi. (Ina/Adv/DisporaKaltim)









