Infonusa.co, Samarinda – Rentetan peristiwa banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Timur kembali menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi cuaca ekstrem. Peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi sinyal kuat bahwa langkah mitigasi tidak bisa lagi dilakukan secara biasa-biasa saja.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menilai pemerintah di semua level perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pola kerja bersama dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
“BMKG sudah memberikan peringatan. Artinya, pemerintah harus bergerak lebih sigap dan tidak menunggu kejadian besar baru bertindak,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa mitigasi bencana membutuhkan koordinasi lintas pemerintahan, mulai dari pusat hingga daerah, agar respons yang dilakukan lebih cepat dan terarah. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Agusriansyah menyoroti banjir yang terjadi di Kabupaten Kutai Timur pada awal Desember lalu sebagai contoh nyata. Bencana tersebut berdampak pada enam kecamatan, yakni Karangan, Muara Wahau, Telen, Kongbeng, Batu Ampar, dan Bengalon, serta mengganggu aktivitas dan kehidupan warga setempat.
Menurutnya, setiap kejadian banjir seharusnya tidak berhenti pada penanganan darurat semata, tetapi menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan mitigasi yang lebih matang.
“Banjir bukan hanya musibah tahunan. Ini harus dijadikan dasar untuk memperbaiki perencanaan, agar dampaknya ke masyarakat bisa ditekan,” tegasnya.
Ia berharap ke depan pemerintah dapat memperkuat langkah pencegahan, mulai dari perbaikan sistem drainase, tata kelola lingkungan, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, sehingga risiko bencana dapat diminimalkan.
“Mitigasi yang terencana akan membuat masyarakat lebih siap dan tidak selalu menjadi pihak paling terdampak,” tutupnya.
(Ina/Adv/DPRDKaltim)









