Infonusa.co, Tenggarong – Anggota Komisi I DPRD Kukar Safruddin mengungkapkan bahwa investigasi atas kematian massal kerang dara di perairan Muara Badak kini melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Langkah pengambilan sampel langsung oleh tim profesor dari Universitas Mulawarman telah rampung empat hari lalu.
“Kami yakin proses sampling ini independen dan tidak dapat diintervensi. Kini tinggal menunggu hasil uji laboratorium, diperkirakan terbit dalam waktu satu bulan,” ujar Safruddin pada Senin (2/6).
Safruddin menjelaskan, selain menunggu hasil laboratorium, DPRD dan KLHK berkoordinasi meningkatkan penguatan data untuk memastikan sumber pencemaran, yang ditengarai berasal dari aktivitas PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
Terkait dampak sosial, Safruddin menyampaikan keprihatinan mendalam atas kerugian ekonomi yang dialami warga pengumpul kerang.
Mereka kehilangan mata pencaharian sebab penjualan kerang berhenti, namun tetap dikejar angsuran kredit dan tagihan pegadaian.
“Ada yang sampai gadaikan emas dan menjual rumah demi modal usaha. Sekarang pendapatan hilang, mereka kesulitan bayar kebutuhan harian,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, DPRD telah mengupayakan bantuan sosial melalui Dinas Sosial, termasuk sembako dan tali asih dari perusahaan terkait sebesar Rp 2 juta per orang.
Safruddin memastikan, pendampingan terus berjalan hingga KLHK menuntaskan penyelidikan.
“Respon KLHK sangat baik. Begitu laporan kami masuk, mereka langsung turun ke lapangan,” tandasnya. (Adv)









