Terkait Banjir, Sugiyono Sebut Solusi Tidak Hanya Pada Pengerukan Sungai

- Jurnalis

Senin, 7 Juli 2025 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Sugiyono. (Ist)

Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Sugiyono. (Ist)

Infonusa.co, Samarinda — Banjir yang kembali melanda wilayah hilir akibat meluapnya Sungai Mahakam menjadi perhatian serius DPRD Kalimantan Timur. Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Sugiyono, menegaskan bahwa persoalan banjir tak akan selesai jika hanya mengandalkan pengerukan sungai di titik-titik rawan, tanpa menyentuh akar masalah di kawasan hulu.

“Masalah utama bukan di sungainya, tapi di hulu yang kehilangan kemampuan menyerap air. Kita terus keruk, tapi air dan lumpur akan tetap datang kalau ekosistem di atas rusak,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kawasan hulu Mahakam, termasuk Heart of Borneo, telah mengalami degradasi serius akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan. Akibatnya, curah hujan tinggi langsung menghanyutkan tanah ke sungai, mempercepat proses pendangkalan dan memperbesar risiko banjir di daerah hilir seperti Samarinda.

Sugiyono mencontohkan Teluk Kahabayi di sekitar Islamic Center sebagai salah satu titik yang kini mengalami pendangkalan ekstrem. Meskipun pengerukan tetap diperlukan, ia menekankan bahwa reboisasi harus dijadikan prioritas untuk memberikan solusi jangka panjang.

“Kalau bukit-bukit di hulu terus gundul, air akan turun bersama tanah. Sungai makin dangkal. Hanya reboisasi yang bisa memperbaiki ini secara berkelanjutan,” tegasnya.

Menurut Sugiyono, banjir harus dipandang sebagai konsekuensi kerusakan sistemik di Daerah Aliran Sungai (DAS). Oleh karena itu, ia mendorong Pemerintah Provinsi Kaltim untuk lebih serius mengalokasikan anggaran bagi konservasi hutan daripada terus-menerus mengandalkan proyek pengerukan tahunan yang mahal dan bersifat reaktif.

“Investasi di hutan jauh lebih murah dan berdampak jangka panjang daripada mengulang pengerukan setiap tahun,” jelasnya.

Ia juga menyoroti lemahnya implementasi kebijakan perlindungan hutan selama ini. Menurutnya, upaya penyelamatan lingkungan tidak cukup dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi harus melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat.

“Banjir ini bukan sekadar soal curah hujan, tapi tentang kerusakan alam yang kita lakukan sendiri. Saatnya kita berubah dan memperbaiki dari akarnya, dari hulu,” tandas Sugiyono.
(San/Adv/DPRDKaltim)

Berita Terkait

Dua Anak Meninggal dalam Kebakaran Loa Ipuh, Pemkab Kukar Koordinasikan Bantuan
Marangkayu Disiapkan Jadi Alternatif Pengembangan Investasi Baru di Kukar
Kredit Kukar Idaman Terbaik Ditargetkan Meluncur Tahun Ini, Skema Masih Dibahas
Dinsos Kukar Buka Kesempatan bagi Warga Lain Lewat Evaluasi Bantuan Permakanan
Disketapang Kukar Bidik 20 Kawasan untuk Perluasan Budidaya Sorgum dan Jelai
Disketapang Kukar Evaluasi Ukuran Lantai Jemur Portable agar Sesuai Lahan Petani
Lahan Gambut Hulu Kukar Jadi Perhatian, BPBD Kaji Peluang Modifikasi Cuaca
Pemkab Kukar Koordinasikan Dukungan Lintas OPD untuk HSN 2026
Berita ini 78 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Dua Anak Meninggal dalam Kebakaran Loa Ipuh, Pemkab Kukar Koordinasikan Bantuan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:18 WIB

Marangkayu Disiapkan Jadi Alternatif Pengembangan Investasi Baru di Kukar

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:16 WIB

Kredit Kukar Idaman Terbaik Ditargetkan Meluncur Tahun Ini, Skema Masih Dibahas

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:48 WIB

Dinsos Kukar Buka Kesempatan bagi Warga Lain Lewat Evaluasi Bantuan Permakanan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:47 WIB

Disketapang Kukar Bidik 20 Kawasan untuk Perluasan Budidaya Sorgum dan Jelai

Berita Terbaru

Foto: Sekda Kukar, Sunggono.

Pemkab Kukar

Kukar Matangkan Lokasi Lomba dan Kontingen Jelang MTQ Kaltim

Jumat, 16 Okt 2026 - 19:27 WIB