Terbentur Keterbatasan Anggaran Wisata, Legislatif Samarinda Dorong Terobosan Wisata Budaya di Desa Pampang

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto.

​

Infonusa.co, Samarinda – Pengembangan sektor pariwisata di Kota Samarinda dinilai masih terhambat akibat minimnya alokasi anggaran. Kondisi ini menyulitkan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam menambah destinasi baru maupun meningkatkan kualitas fasilitas objek wisata yang sudah ada.

​Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto, mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa sekadar mengandalkan keindahan atau potensi alam semata. Butuh komitmen pembiayaan, skema investasi, dan strategi pengelolaan yang terarah agar pariwisata daerah tumbuh berkelanjutan.

​”Dengan anggaran terbatas, pemerintah tentu menghadapi tantangan berat untuk membangun destinasi baru. Karena itu, butuh strategi kreatif dan dukungan lintas pihak agar sektor wisata tetap bergerak,” ujar Rusdi.

​Rusdi menganalisis bahwa Samarinda memiliki keunikan tersendiri karena tidak didominasi wisata alam seperti daerah tetangga. Karakteristik perkotaan ini seharusnya memicu Pemkot untuk melahirkan konsep rekreasi berbasis kekuatan lokal dan ruang publik.

​Ia mengapresiasi kehadiran Teras Samarinda yang kini menjadi magnet rekreasi warga. Namun, ia menekankan bahwa Samarinda butuh lebih banyak pilihan destinasi agar wisatawan tidak cepat bosan dan mau tinggal lebih lama di Kota Tepian.

​”Kalau pilihan wisatanya cuma satu atau dua, wisatawan habis datang langsung pulang. Kita butuh banyak alternatif tempat agar lama tinggal (length of stay) wisatawan bisa meningkat,” jelasnya.

​Sebagai solusi minim anggaran fisik, Rusdi mendorong Pemkot memaksimalkan potensi seni dan budaya lokal. Salah satu aset besar yang disorotinya adalah Desa Budaya Pampang. Ia menyarankan agar pertunjukan adat dan budaya di Pampang dikemas secara rutin dengan jadwal yang pasti.

​”Kalau atraksi budaya di Pampang punya jadwal rutin yang jelas, wisatawan bisa mematok waktu kunjungan dengan pasti. Ini akan menjadi magnet kekuatan wisata tersendiri,” tuturnya.

​Rusdi menambahkan, pengembangan kawasan budaya seperti Pampang juga harus didukung regulasi serta sinergi yang jelas antara pemerintah, masyarakat adat, dan investor swasta. Ia optimistis, jika dikelola serius lewat kolaborasi, pariwisata bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus pendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). (San/Adv)

Berita Terkait

Dua Anak Meninggal dalam Kebakaran Loa Ipuh, Pemkab Kukar Koordinasikan Bantuan
Marangkayu Disiapkan Jadi Alternatif Pengembangan Investasi Baru di Kukar
Kredit Kukar Idaman Terbaik Ditargetkan Meluncur Tahun Ini, Skema Masih Dibahas
Dinsos Kukar Buka Kesempatan bagi Warga Lain Lewat Evaluasi Bantuan Permakanan
Disketapang Kukar Bidik 20 Kawasan untuk Perluasan Budidaya Sorgum dan Jelai
Disketapang Kukar Evaluasi Ukuran Lantai Jemur Portable agar Sesuai Lahan Petani
Lahan Gambut Hulu Kukar Jadi Perhatian, BPBD Kaji Peluang Modifikasi Cuaca
Pemkab Kukar Koordinasikan Dukungan Lintas OPD untuk HSN 2026
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Dua Anak Meninggal dalam Kebakaran Loa Ipuh, Pemkab Kukar Koordinasikan Bantuan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:18 WIB

Marangkayu Disiapkan Jadi Alternatif Pengembangan Investasi Baru di Kukar

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:16 WIB

Kredit Kukar Idaman Terbaik Ditargetkan Meluncur Tahun Ini, Skema Masih Dibahas

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:48 WIB

Dinsos Kukar Buka Kesempatan bagi Warga Lain Lewat Evaluasi Bantuan Permakanan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:47 WIB

Disketapang Kukar Bidik 20 Kawasan untuk Perluasan Budidaya Sorgum dan Jelai

Berita Terbaru