Infonusa.co, Samarinda— Samarinda kembali diguncang oleh kabar memilukan dari dunia pendidikan dasar. Sebuah video berdurasi 20 detik yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang siswi sekolah dasar menjadi korban kekerasan fisik oleh dua temannya. Tayangan tersebut sontak memicu kemarahan dan keprihatinan masyarakat.
Dalam rekaman, terlihat jelas seorang siswi berseragam putih dan celana hitam dijambak, ditampar, hingga ditendang oleh dua anak perempuan berseragam kuning. Korban hanya bisa menahan sakit, tanpa daya untuk melawan, sementara peristiwa itu direkam oleh seseorang yang belum diketahui identitasnya.
Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, langsung turun tangan. Mereka menelusuri keberadaan korban dan akhirnya berhasil menemui korban bersama orang tuanya.
“Setelah mendapatkan informasi dari salah satu sumber, kami mendatangi rumah korban. Orang tuanya sangat terpukul melihat video itu. ‘Sakit hati saya melihat anak saya diperlakukan seperti itu,’ ujar sang ibu,” kata Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, Jumat (9/5).
Rina menjelaskan, insiden tersebut terjadi pada 24 April 2025. Saat itu, korban dijemput oleh temannya di depan gang rumah, lalu dibawa ke sebuah gang di kawasan Samarinda Seberang. Di sanalah dua pelaku telah menunggu, dan langsung menganiaya korban.
“Informasinya, korban diajak ke lokasi itu untuk dimintai klarifikasi soal hubungan dengan pacar salah satu pelaku. Tapi sesampainya di sana, korban langsung dipukul dan ditendang,” ungkap Rina.
Tak terima, pihak keluarga akhirnya meminta bantuan TRC PPA untuk melaporkan kejadian ini ke Polsek Samarinda Seberang. Laporan pun resmi dilayangkan.
Ironisnya, usai kejadian, pelaku sempat mendatangi rumah korban. Namun bukan untuk meminta maaf, melainkan menantang korban agar menjalani visum untuk membuktikan tudingan pemukulan.
“Pelaku justru bilang tidak merasa bersalah. Ia bilang, ‘Kalau memang saya mukul, silakan visum saja’,” imbuh Rina.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami trauma berat. Korban kerap menangis dan masih ketakutan. TRC PPA memastikan akan terus mendampingi korban selama proses hukum berjalan.
“Kami akan memberikan pendampingan penuh, mulai dari proses pelaporan hingga visum. Korban masih di bawah umur dan kondisinya sangat terguncang,” tutup Rina.
Peristiwa ini membuka kembali luka lama soal lemahnya pengawasan dan pendidikan karakter di lingkungan sekolah dasar. Kekerasan yang terjadi di usia belia tak hanya melukai fisik, tapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi korban dan mencerminkan kegagalan sistem dalam menumbuhkan nilai empati serta rasa hormat sejak dini.









