Infonusa.co, Tenggarong – Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Anggota Komisi IV Akbar Haka menekankan perlunya pendidikan seksual diberikan kepada anak-anak sejak usia dini, baik di tingkat sekolah dasar maupun remaja.
Kata dia, isu ini tidak bisa lagi dipandang tabu, melainkan harus dilihat sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya pelecehan maupun kekerasan seksual di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
Politisi PDIP ini menjelaskan bahwa di sejumlah negara maju, pendidikan seksual sudah menjadi bagian dari kurikulum resmi. Anak-anak diberikan pemahaman dasar mengenai tubuh mereka, batasan-batasan yang harus dijaga, serta bagaimana cara melindungi diri dari tindakan yang berpotensi melukai atau merugikan mereka.
“Di Jepang, Amerika, anak-anak sejak remaja sudah diajarkan tentang apa itu batasan tubuh, siapa yang boleh menyentuh mereka, siapa yang tidak. Bahkan sampai hal teknis seperti penggunaan alat pengaman juga sudah dikenalkan. Itu bukan berarti kita meniru modernisasi begitu saja, tapi karena mereka sadar pentingnya edukasi ini sebagai bentuk perlindungan anak,” ujarnya pada Selasa (19/8/2025).
Ia menambahkan, salah satu hal paling penting dari pendidikan seksual adalah membangun keberanian anak untuk bersuara ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman. Anak-anak harus tahu kapan mereka harus menolak, kapan mereka harus berteriak, dan kepada siapa mereka bisa melapor.
“Kalau sejak kecil sudah diajari, anak-anak akan punya bekal untuk melindungi dirinya sendiri. Mereka bisa tahu, kalau ada orang lain yang coba menyentuh tubuh mereka tanpa izin, itu salah. Mereka bisa langsung bereaksi, bisa berteriak, atau melapor. Itu yang kita butuhkan,” tegasnya.
Dia menyoroti, masyarakat Indonesia seringkali masih menganggap pendidikan seksual sebagai hal yang tabu, sehingga pembahasan mengenai seksualitas jarang dilakukan secara terbuka. Padahal, menurutnya, sikap seperti ini justru membuat anak-anak tidak memiliki pemahaman yang benar dan akhirnya lebih rentan menjadi korban.
“Kalau kita menutup-nutupi, anak-anak malah mencari tahu sendiri dari sumber yang salah, entah dari internet atau lingkungan. Itu yang berbahaya. Karena itu, perlu ada kurikulum yang jelas, terstruktur, dan disampaikan oleh guru maupun pendidik yang sudah diberi pelatihan,” tambahnya.
Di akhir penyampaiannya, Akbar Haka berharap agar pemerintah daerah bersama instansi terkait bisa merumuskan strategi konkret dalam mendorong edukasi seksual yang ramah anak.
Menurutnya, langkah ini akan membantu menciptakan generasi yang lebih sadar, lebih terlindungi, dan mampu membangun karakter dengan pemahaman yang benar tentang diri mereka sendiri.
“Kalau kita ingin melahirkan generasi yang kuat, sehat, dan berkarakter, maka pendidikan seksual sejak dini harus menjadi bagian dari perjalanan mereka. Ini bukan sekadar soal pengetahuan, tapi soal keselamatan anak-anak kita,” pungkasnya. (Adv)









