Infonusa.co, PPU Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Penajam Paser Utara (PPU), Raup Muin, menyoroti langkah pemerintah daerah yang gencar melakukan digitalisasi sistem retribusi di Pelabuhan Buluminung. Ia menilai, kemajuan teknologi dan infrastruktur yang dibangun tidak akan memberi dampak berarti jika pelabuhan tersebut belum memiliki pasar dan pengguna jasa yang jelas.
“Yang jadi masalah bukan pelabuhannya, tapi pasarnya. Siapa yang pakai?” tegas Raup dengan nada serius usai menghadiri peluncuran sistem retribusi digital, Senin (4/8/2025).
Menurutnya, hingga kini Pelabuhan Buluminung belum mampu menarik minat pelaku usaha logistik maupun perdagangan. Meskipun fasilitas pelabuhan sudah tersedia, aktivitas ekonomi di kawasan tersebut dinilai masih jauh dari optimal.
“Distribusi barang, sembako, atau bahan material masih banyak bergantung ke Balikpapan. Karena di PPU sendiri belum terbentuk pasar yang mendukung,” ungkap Raup saat ditemui Selasa (5/8/2025).
Ia membandingkan kondisi Pelabuhan Buluminung dengan dua pelabuhan besar di Balikpapan, Semayang dan Kariangau, yang dinilainya telah memiliki ekosistem logistik mapan mulai dari pergudangan, jaringan transportasi, hingga distribusi yang luas.
“Kalau bicara efisiensi, para pelaku usaha pasti lebih memilih Semayang atau Kariangau. Di sana jaringan sudah kuat, pasarnya luas, dan dukungan logistiknya lengkap. Sementara kita di PPU cakupannya masih terbatas,” jelasnya.
Selain itu, Raup juga mengkhawatirkan tingginya biaya operasional Pelabuhan Buluminung yang berpotensi menjadi beban fiskal jika tidak diimbangi dengan peningkatan aktivitas ekonomi. Ia menegaskan perlunya strategi konkret dari pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan pasar dan menggandeng pelaku usaha dari luar daerah.
“Selama hanya mengandalkan PPU, pelabuhan ini tidak akan mencapai potensi maksimalnya. Harus ada intervensi strategis, bukan hanya pembangunan fisik tapi juga penguatan pasarnya,” ujarnya.
Lebih jauh, Raup mendesak agar pembangunan pelabuhan tidak semata berorientasi pada fisik infrastruktur. Menurutnya, fokus utama harus diarahkan pada penciptaan peluang pasar dan konektivitas ekonomi yang lebih luas agar Pelabuhan Buluminung benar-benar dapat memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Bangun pelabuhan, oke. Tapi bangun juga pasarnya. Karena kalau enggak ada pengguna, ya percuma. PAD tidak akan naik hanya dengan dermaga yang megah,” pungkasnya.(aw/adv/dprd/ppu)









