Infonusa.co, Tenggarong – Penurunan jumlah petani di Kabupaten Kutai K
artanegara (Kukar) menjadi sorotan serius dari anggota DPRD Kukar Dapil V, Farida.
Berdasarkan data dari Pemkab Kukar, terjadi penurunan jumlah petani hingga 7 persen setiap tahunnya. Angka ini dinilai mengkhawatirkan karena berpotensi mengancam ketahanan pangan daerah dalam jangka panjang.
“Ini ancaman nyata bagi Kukar. Jika tidak segera ditangani, maka bukan tidak mungkin sektor pertanian kita akan lumpuh karena tidak ada lagi yang melanjutkan,” ujar Farida, Rabu (9/7/2025).
Ia menyebut, salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan jumlah petani adalah minimnya regenerasi.
Saat ini, mayoritas pelaku usaha tani di Kukar berasal dari kelompok usia paruh baya, sementara generasi muda masih enggan terjun ke sektor pertanian.
“Petani kita sekarang kebanyakan sudah usia lanjut. Jarang anak muda yang tertarik turun ke sawah atau kebun. Ini yang harus kita ubah,” tegasnya.
Farida mendorong agar Pemkab Kukar, khususnya melalui Dinas Pertanian dan Dinas Perkebunan, segera mengambil langkah strategis dengan menghadirkan program pertanian yang lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan serta gaya hidup generasi muda.
Ia menilai, modernisasi pertanian seperti penerapan teknologi pertanian, sistem hidroponik, pertanian presisi, dan digitalisasi usaha tani menjadi solusi untuk menarik minat generasi milenial dan Gen Z.
“Pertanian sekarang tidak lagi harus identik dengan lumpur dan mencangkul. Ada metode yang lebih bersih, produktif, dan bisa dikembangkan di perkotaan maupun pedesaan. Ini yang harus kita kenalkan ke generasi muda,” ungkapnya.
Untuk itu, kata politikus PDIP ini, DPRD Kukar menyatakan siap memberikan dukungan penuh berupa fasilitasi pelatihan, bantuan alat dan teknologi pertanian, hingga dukungan regulasi dan anggaran yang dibutuhkan.
“Program regenerasi petani ini tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada sinergi lintas sektor, termasuk dari legislatif, eksekutif, dan pelaku usaha tani,” tambahnya.
Farida berharap, ke depan akan lahir petani-petani milenial baru di Kukar yang tidak hanya mewarisi semangat bertani, tetapi juga menjadi pelopor pertanian modern yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.
“Kita tidak bisa hanya berseru tanpa solusi. Sudah saatnya ada tindakan konkret, karena pangan adalah soal masa depan,” pungkasnya. (Adv)









