Infonusa.co, PPU Ketua Komisi II DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Thohiron, menyoroti pentingnya peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam memperkuat hilirisasi sektor pertanian di daerah. Menurutnya, BUMD seharusnya berfungsi sebagai penyangga utama penyerapan hasil panen, terutama saat harga komoditas anjlok di pasaran.
Ia menilai persoalan klasik yang terus berulang harga jual tidak stabil dan akses pasar yang tidak pasti berdampak terhadap pendapatan serta motivasi petani, khususnya petani kecil.
“Petani akan bekerja dengan penuh semangat jika harga jual terjamin. Kalau Bulog tidak menyerap, maka BUMD harus bergerak. Dari padi di sawah hingga menjadi beras, di situlah hilirisasi harus berjalan,” ujar Thohiron, Jumat (29/8/2025).
Thohiron menekankan proses hilirisasi tidak boleh hanya berfokus pada padi. Komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan kebutuhan sayuran lainnya juga perlu masuk dalam skema penyerapan agar petani tidak terus bergantung pada fluktuasi harga pasar.
“Petani hortikultura jangan dibiarkan berjuang sendiri. Kalau sistem serapannya jelas, mereka tidak akan ragu menanam. Seperti sawit dulu begitu ada pabrik, mereka tenang karena ada kepastian penampung,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti momentum strategis hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berlokasi berseberangan dengan PPU. Kebutuhan pangan IKN diyakini akan terus meningkat dan seharusnya menjadi peluang ekonomi langsung bagi petani lokal.
“Kebutuhan pangan IKN sangat besar, dan PPU adalah wilayah terdekat. Maka belanja pangannya idealnya diserap dari petani kita. Jangan sampai hanya jadi penonton,” tegasnya.
Dengan potensi lahan yang luas dan produksi pertanian yang berkelanjutan, Thohiron meminta BUMD berani mengambil peran lebih aktif, tidak sekadar menjadi operator administrasi.
“Kita tidak bisa terus menggantungkan nasib petani pada mekanisme pasar bebas. Pemerintah daerah harus hadir melalui BUMD-nya. Jangan sampai petani kembali menjadi korban fluktuasi harga,” tutupnya.(aw/adv/dprd/ppu)









