Infonusa.co, Tenggarong – Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang menimpa santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Tenggarong Seberang terus mendapat sorotan.
Wakil Ketua III DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Aini Faridah, mengaku prihatin dan siap mengawal penyelesaian kasus ini hingga tuntas.
“Jujur, waktu pertama kali mendengar masalah ini saya gemetar. Saya bukan alumni pondok, tapi suami dan anak saya mondok. Mendengar kasus seperti ini, saya pribadi miris sekaligus ngeri,” ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kukar bersama alumni Ponpes Tenggarong Seberang, Selasa (26/8/2025).
Dia menilai, kasus yang terjadi di Ponpes Tenggarong Seberang ini bagaikan nila setitik rusak susu sebelanga. Satu kasus bisa merusak kepercayaan orang tua untuk menitipkan anaknya ke pesantren lain.
“Padahal pondok pesantren itu tempat anak-anak kita menimba ilmu agama yang tidak sempat diajarkan orang tua di rumah. Harapan kita menitipkan anak di pondok adalah agar anak-anak bisa disiplin, paham agama, dan berakhlak baik. Kalau kasus seperti ini terjadi, kepercayaan orang tua tentu hilang,” jelasnya.
Ia menegaskan, DPRD Kukar melalui Komisi IV akan turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi pesantren, sekaligus memastikan pengawasan dilakukan dengan baik.
“Insya Allah, kami siap mengawal kasus ini sampai selesai. Kami akan pastikan pondok tidak hanya memberikan pelajaran agama, tetapi juga menyediakan tempat yang aman dan layak bagi anak-anak,” tegasnya.
Aini juga meminta Kementerian Agama (Kemenag) untuk meningkatkan pengawasan terhadap seluruh pondok pesantren di Kukar agar kasus serupa tidak terulang kembali.
“Kalau kejadian ini terus berulang, saya yakin orang tua akan takut menitipkan anaknya di pondok pesantren. Padahal pondok itu sangat penting bagi pendidikan agama anak-anak kita,” tutupnya. (Adv)









