Infonusa.co, Samarinda — Menjelang senja, Nurul Zafik masih sempat membaca pesan dari ibunya—sebuah permintaan sederhana yang kini terasa begitu dalam: membawakan kepiting dari empang untuk makan malam bersama. Tak ada yang istimewa, hanya harapan kecil akan kebersamaan keluarga di meja makan.
Namun pagi harinya, harapan itu musnah seketika. Longsor besar menghantam permukiman mereka di Jalan Belimau Raya, RT 22, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Rumah luluh lantak, dan empat nyawa terenggut—ibu, kakak, serta dua adik Zafik tak sempat diselamatkan. Zafik sendiri selamat, tapi hatinya tak utuh lagi.
Zafik sedang berada di empang bersama sang ayah ketika kejadian terjadi. “Saya lagi di empang sama bapak waktu kejadian. Ibu sempat WA (WhatsApp) sore sebelumnya, minta dibawakan kepiting,” ungkapnya, Rabu (14/5/2025).
Permintaan sederhana itu datang dari ibunya, Hamdana (50), yang kini tinggal kenangan. Ia ditemukan tak bernyawa bersama tiga anggota keluarga lainnya: Nasrul (24), anak sulung keluarga; Nurul Sakira (17); dan Fitri (14). Semua ditemukan di antara puing-puing rumah yang hancur akibat longsor pada Senin pagi (12/5/2025), sekitar pukul 06.00 Wita, setelah hujan deras mengguyur sejak dini hari.
Bagi Zafik, pesan dari sang ibu menjadi percakapan terakhir yang tak akan pernah ia lupakan. “Ibu bilang, ‘Nak, bawakan kepiting ya. Kita makan malam rame-rame.’ Tapi saya belum sempat pulang, paginya semua sudah terjadi,” paparnya.
Warga sekitar turut mengingat malam kejadian. Hujan turun tanpa henti, membuat tanah di lereng belakang rumah korban yang sudah lama rawan longsor, akhirnya tak mampu lagi menahan beban air. Tak ada yang menyangka bencana sebesar itu akan datang secepat itu.
Keluarga Hamdana dikenal sebagai keluarga yang hangat dan sederhana. Hamdana adalah ibu yang sabar dan penuh kasih. Nasrul dikenal sebagai anak sulung yang bertanggung jawab, sementara dua putri bungsu, Sakira dan Fitri, dikenal ceria dan berprestasi.
Kini, Zafik hanya memiliki sang ayah dan kakaknya yang lain, Sahrul (20). Mereka kehilangan bukan hanya rumah, tapi hampir seluruh dunia yang mereka miliki.
“Yang paling berat bukan kehilangan barang atau rumah. Tapi kehilangan mereka semua sekaligus,” kata Zafik dengan suara gemetar.
Pemerintah dan para relawan telah bergerak cepat. Evakuasi selesai pada hari yang sama, dan pemakaman pun langsung dilakukan. Bantuan darurat dikirimkan, tapi luka di hati keluarga yang ditinggalkan tak mudah untuk disembuhkan.
Kini, yang tersisa bagi Zafik hanyalah kenangan akan pesan terakhir sang ibu—bukan sekadar tentang kepiting, tetapi tentang cinta seorang ibu yang ingin makan malam bersama keluarganya, untuk terakhir kalinya.
“Kalau saya tahu itu permintaan terakhir, saya pasti langsung pulang,” tutupnya dengan perasaan sesal.









