Sapto Anggap Sistem Zonasi PPDB Perlu Evaluasi Mendalam

- Jurnalis

Kamis, 28 November 2024 - 01:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD Kaltim, Sapto Setyo Pramono (Ist).

Anggota DPRD Kaltim, Sapto Setyo Pramono (Ist).

Infonusa.co, Samarinda – Sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terus menjadi sorotan, terutama dari daerah di luar Pulau Jawa. Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Sapto Setyo Pramono, menyampaikan kritik terhadap penerapan kebijakan tersebut. Meski memiliki tujuan yang baik, menurut Sapto, sistem zonasi tidak sepenuhnya cocok diterapkan di semua wilayah Indonesia.

“Pemerintah pusat juga harus mengerti bahwa bagus ini cukupnya di mana. Bagusnya di Jawa yes, di luar Jawa belum tentu,” beber Sapto.

Dirinya mencatat adanya banyak keluhan masyarakat terkait jalur afirmasi, prestasi, maupun zonasi dalam PPDB. Salah satu permasalahan utama yang diangkat adalah kurangnya perhatian terhadap keinginan dan kemampuan akademik siswa.

Menurut Sapto, sistem zonasi yang bertujuan menghilangkan diferensiasi antara sekolah sering kali tidak diimbangi dengan langkah nyata untuk memeratakan kualitas pendidikan.

“Dengan sistem ini tidak ada lagi sekolah favorit, semua sama. Tentunya ini harus dikaji lagi, karena menurut saya sistem ini tidak efektif,” ujarnya dengan tegas.

Sapto menjelaskan bahwa kebijakan zonasi lahir sebagai adaptasi dari sistem rayonisasi, yang sebelumnya lebih berfokus pada capaian akademik siswa. Zonasi bertujuan menghapus stigma “sekolah favorit” dan mendorong pemerataan mutu pendidikan di seluruh sekolah.

Namun, Dirinya menilai tujuan tersebut sulit tercapai, terutama di daerah dengan tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas pendidikan.

Sapto juga menyoroti ironi dalam pelaksanaan kebijakan ini. Dirinya menyebut keberadaan sekolah unggulan atau pusat keunggulan di beberapa daerah justru tetap menciptakan hierarki dalam sistem pendidikan, yang bertentangan dengan prinsip dasar zonasi.

“Tidak semua di daerah itu sama. Jika pusat ingin memeratakan kualitas, langkah ini harus dirancang ulang secara realistis,” ihwalnya.

Dirinya mengajak pemerintah untuk mengevaluasi sistem zonasi secara menyeluruh, termasuk dampaknya terhadap mutu pendidikan di daerah.

Terakhir kata dia, Sapto berharap ada solusi yang lebih adil dan efektif untuk menjamin pemerataan pendidikan tanpa mengorbankan kualitas serta aspirasi siswa dan masyarakat.

(Ikhaan/Adv/DPRDKaltim).

Berita Terkait

Dua Anak Meninggal dalam Kebakaran Loa Ipuh, Pemkab Kukar Koordinasikan Bantuan
Marangkayu Disiapkan Jadi Alternatif Pengembangan Investasi Baru di Kukar
Kredit Kukar Idaman Terbaik Ditargetkan Meluncur Tahun Ini, Skema Masih Dibahas
Dinsos Kukar Buka Kesempatan bagi Warga Lain Lewat Evaluasi Bantuan Permakanan
Disketapang Kukar Bidik 20 Kawasan untuk Perluasan Budidaya Sorgum dan Jelai
Disketapang Kukar Evaluasi Ukuran Lantai Jemur Portable agar Sesuai Lahan Petani
Lahan Gambut Hulu Kukar Jadi Perhatian, BPBD Kaji Peluang Modifikasi Cuaca
Pemkab Kukar Koordinasikan Dukungan Lintas OPD untuk HSN 2026
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Dua Anak Meninggal dalam Kebakaran Loa Ipuh, Pemkab Kukar Koordinasikan Bantuan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:18 WIB

Marangkayu Disiapkan Jadi Alternatif Pengembangan Investasi Baru di Kukar

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:16 WIB

Kredit Kukar Idaman Terbaik Ditargetkan Meluncur Tahun Ini, Skema Masih Dibahas

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:48 WIB

Dinsos Kukar Buka Kesempatan bagi Warga Lain Lewat Evaluasi Bantuan Permakanan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:47 WIB

Disketapang Kukar Bidik 20 Kawasan untuk Perluasan Budidaya Sorgum dan Jelai

Berita Terbaru