Infonusa.co, Samarinda – Sejak dini hari, hujan deras tak henti mengguyur Kota Samarinda, Senin (12/5/2025). Guyuran hujan dengan intensitas tinggi tak hanya menyebabkan genangan di puluhan titik kota, tetapi juga memicu bencana yang lebih mematikan: tanah longsor yang menerjang permukiman warga dan menyisakan duka mendalam.
Kejadian paling memilukan terjadi di Jalan Belimau Raya, RT 22, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Di kawasan berbukit itu, longsor tiba-tiba terjadi sekitar pukul 06.00 Wita—saat sebagian besar warga masih berada di dalam rumah, belum sempat menyadari bahaya yang mengancam dari balik bukit. Dua orang dipastikan meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam pencarian.
Cuaca ekstrem ini bukan tanpa catatan; menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, data BMKG menunjukkan curah hujan mencapai 135 milimeter—angka yang sangat cukup untuk memicu longsor di kawasan lereng seperti Lempake.
Di antara rumah-rumah yang tertimbun adalah milik keluarga Sahrul (20). Sahrul, yang tengah bekerja di tambak ketika bencana terjadi, menerima kabar mengejutkan dari tetangganya bahwa rumahnya tertimpa longsor. Tanpa pikir panjang, ia segera bergegas pulang. Namun setibanya di lokasi, yang ia dapati hanyalah hamparan tanah dan reruntuhan yang menelan seluruh rumahnya.
“Sesampainya di rumah, saya tidak melihat apa-apa. Semuanya sudah rata dengan tanah,” ucap Sahrul dengan suara tertahan, menyiratkan kesedihan yang belum sempat berubah menjadi air mata.
Di dalam rumah itu, terdapat empat anggota keluarganya: sang ibu, Hamdana (50), kakaknya Nasrul (24), serta dua adiknya, Nurul Sakira (17) dan Fitri (14). Diperkirakan mereka sedang terlelap saat longsoran tanah menghantam tanpa peringatan.
Warga sekitar, Noviansyah, memberikan kesaksian yang menggambarkan detik-detik mencekam sebelum bencana. Ia menyebut bahwa listrik sempat padam, menciptakan suasana gelap yang menyelimuti kawasan tersebut. Hamdana, menurutnya, sempat keluar rumah dengan ponsel sebagai penerang. Namun tak lama setelah ia kembali masuk, tanah dari bukit di belakang permukiman tiba-tiba meluncur cepat, menyapu dua rumah yang berada di posisi paling depan.
“Longsor terjadi sangat cepat. Langsung mengenai dua rumah paling depan,” ujar Noviansyah, mengenang kembali detik-detik yang mengubah pagi itu menjadi tragedi.
Langit Samarinda mungkin telah kembali cerah, tetapi luka yang ditinggalkan di hati para korban dan warga sekitar masih jauh dari reda.









