Kukar Jadi Penyumbang Tertinggi Kematian Ibu, Salehuddin Desak Perbaikan Edukasi

- Jurnalis

Senin, 23 Juni 2025 - 12:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim, Salehuddin.

Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim, Salehuddin.

Infonusa.co, Samarinda – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mencatat sebanyak 26 kasus kematian ibu sepanjang Mei 2025. Data ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam upaya menekan angka kematian ibu (AKI) serta meningkatkan layanan kesehatan maternal di seluruh wilayah Kaltim.

Dari data yang dirilis, Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi dua wilayah dengan angka kematian ibu tertinggi, masing-masing mencatat enam kasus. Diikuti Kota Balikpapan dengan empat kasus, serta Kabupaten Paser, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu dengan masing-masing dua kasus.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, Salehuddin, yang juga merupakan wakil rakyat dari daerah pemilihan Kutai Kartanegara, menyampaikan keprihatinannya. Dirinya menilai besarnya wilayah Kukar menjadi tantangan tersendiri dalam menjangkau layanan kesehatan secara merata.

“Kalau ditakar dari segi luas dan jumlah penduduk, Kukar memang yang terbesar di Kaltim. Namun tingginya angka kematian ibu di sana juga menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem layanan dan edukasi kesehatan,” jelasnya

Salehuddin mengungkapkan, meskipun pemerintah daerah telah menyediakan tenaga kesehatan di tiap desa, seperti perawat dan bidan, namun proses edukasi kepada masyarakat masih minim. Hal tersebut menyebabkan sebagian masyarakat lebih memilih bantuan dari tenaga tidak profesional seperti dukun beranak atau bidan kampung.

“Kami temukan kasus di Muara Kaman, di mana ibu melahirkan tidak menggunakan tenaga kesehatan resmi padahal tersedia. Akibatnya, terjadi keguguran hingga kematian ibu. Ini sudah kami laporkan ke Dinas Kesehatan Kukar,” ungkapnya.

Salehuddin juga menyoroti lemahnya koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi dan kabupaten/kota. Menurutnya, koordinasi yang selama ini dilakukan masih bersifat administratif semata, seperti pengambilan data dan monitoring, tanpa diiringi upaya strategis menyeluruh.

“Ke depan, saya berharap ada sinergi yang lebih kuat antara Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten dalam memaksimalkan peran tenaga kesehatan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya layanan kesehatan maternal yang aman dan profesional,” tutupnya. (San/Adv/DPRDKaltim)

Berita Terkait

RS Bhakti Nugraha Samarinda Tutup Permanen, DPRD Pastikan Layanan Kesehatan Warga dan Nasib Nakes Aman
Sektor Wisata Alam Samarinda Mati Suri, DPRD Desak Pemkot Garap Serius Gunung Steling hingga Sungai Karang Mumus
DPRD Samarinda ajak Mahasiswa Tak Sekadar Kritik, Tapi Ikut Kawal Kebijakan Daerah
DPRD Samarinda Desak OPD Segera Tindak Perusahaan Peraih Rapor Merah Lingkungan dari KLHK
DPRD Samarinda Minta Pemerintah Bina Relawan Lalu Lintas: Beri ID Card Resmi dan Jaminan Kesehatan
Zonasi Kerap Diabaikan, DPRD Samarinda Sebut Pola Pikir ‘Sekolah Favorit’ Masih Sulit Diubah
DPRD Samarinda Minta OPD Jangan Malu Curhat Soal Minimnya Anggaran dan Fasilitas Pelayanan
Sampah Menumpuk Bukan Melulu Soal Kinerja, DPRD Samarinda Minta Evaluasi Total Armada DLH
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 18:39 WIB

RS Bhakti Nugraha Samarinda Tutup Permanen, DPRD Pastikan Layanan Kesehatan Warga dan Nasib Nakes Aman

Kamis, 18 Juni 2026 - 18:38 WIB

Sektor Wisata Alam Samarinda Mati Suri, DPRD Desak Pemkot Garap Serius Gunung Steling hingga Sungai Karang Mumus

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:35 WIB

DPRD Samarinda Desak OPD Segera Tindak Perusahaan Peraih Rapor Merah Lingkungan dari KLHK

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:33 WIB

DPRD Samarinda Minta Pemerintah Bina Relawan Lalu Lintas: Beri ID Card Resmi dan Jaminan Kesehatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:31 WIB

Zonasi Kerap Diabaikan, DPRD Samarinda Sebut Pola Pikir ‘Sekolah Favorit’ Masih Sulit Diubah

Berita Terbaru