Kekurangan SDM Gizi Dinilai Perlambat Penanganan Stunting di Kalimantan Timur

- Jurnalis

Kamis, 27 November 2025 - 19:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis

Infonusa.co, Samarinda – Upaya menekan angka stunting di Kalimantan Timur dinilai masih menghadapi hambatan serius akibat keterbatasan sumber daya manusia di bidang gizi. Jumlah tenaga gizi yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan pelayanan masyarakat, khususnya bagi ibu hamil dan anak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim tahun 2024 menunjukkan, provinsi ini hanya memiliki sekitar 503 tenaga gizi untuk melayani lebih dari 4 juta penduduk. Angka tersebut masih jauh di bawah standar ideal nasional yang merekomendasikan rasio 35 tenaga gizi per 100 ribu jiwa.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menilai kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap efektivitas program pencegahan stunting. Ia menegaskan bahwa intervensi gizi tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan tenaga profesional yang memadai.

“Penanganan stunting sangat bergantung pada pendampingan gizi. Jika jumlah petugasnya terbatas, maka jangkauan pelayanan juga otomatis terbatas,” katanya.

Selain persoalan kuantitas, Ananda juga menyoroti ketimpangan distribusi tenaga gizi antarwilayah. Kota-kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan memiliki puluhan tenaga gizi, sementara daerah dengan akses sulit dan wilayah luas, seperti Mahakam Ulu, hanya dilayani belasan orang.

Ketimpangan ini membuat pelayanan gizi di kawasan terpencil menjadi kurang maksimal.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, DPRD Kaltim mendorong pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan, agar menyusun langkah strategis dalam menambah dan meratakan tenaga gizi. Salah satu opsi yang dinilai realistis adalah memperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi dan institusi pendidikan kesehatan di Kaltim.

Menurut Ananda, kampus seperti Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, dan Poltekkes Kemenkes memiliki peran penting sebagai pemasok tenaga profesional di bidang gizi.

“Kami berharap ada kebijakan konkret yang tidak hanya menambah jumlah tenaga gizi, tetapi juga memastikan mereka ditempatkan sesuai kebutuhan daerah. Tanpa itu, target penurunan stunting akan sulit dicapai,” pungkasnya. (Ina/Adv/DPRDKaltim)

Berita Terkait

Aturan Guru Honorer Dihapus 2027 Picu Kekhawatiran, DPRD Samarinda Beberkan Hasil Klarifikasi ke Kemendikdasmen
DPRD Samarinda Minta Pemkot Tunda Revitalisasi Pasar Segiri: Banjir Lebih Mendesak
Dua Lokasi Rampung, DPRD Minta Koperasi Merah Putih Samarinda Dikelola Profesional dan Transparan
DPRD Samarinda: Putusan MK Soal Jakarta Tidak Menghambat Pemindahan IKN ke Kaltim
Data Aset Pemkot Samarinda Masih Misterius, DPRD: Jangan Sampai Baru Ribut Pas Ada Sengketa Tanah!
Siswa Gagal Masuk Negeri Terancam Putus Sekolah, DPRD Minta Pemkot Samarinda Subsidi SPP Swasta
Parkir Pembeli Meluber ke Jalan Juanda, DPRD Samarinda Ingatkan Pengusaha Wajib Siapkan Lahan Parkir
Godok Raperda TBC dan HIV/AIDS, DPRD Samarinda Siapkan Aturan untuk Libatkan Warga secara Masif
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:58 WIB

Aturan Guru Honorer Dihapus 2027 Picu Kekhawatiran, DPRD Samarinda Beberkan Hasil Klarifikasi ke Kemendikdasmen

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:57 WIB

DPRD Samarinda Minta Pemkot Tunda Revitalisasi Pasar Segiri: Banjir Lebih Mendesak

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:55 WIB

Dua Lokasi Rampung, DPRD Minta Koperasi Merah Putih Samarinda Dikelola Profesional dan Transparan

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:53 WIB

DPRD Samarinda: Putusan MK Soal Jakarta Tidak Menghambat Pemindahan IKN ke Kaltim

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:49 WIB

Siswa Gagal Masuk Negeri Terancam Putus Sekolah, DPRD Minta Pemkot Samarinda Subsidi SPP Swasta

Berita Terbaru