Infonusa.co, Samarinda – Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi sorotan setelah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menempatkan provinsi ini dalam lima besar daerah dengan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) tinggi menjelang Pemilu 2024. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Kaltim selama ini dikenal sebagai wilayah yang relatif kondusif dalam setiap penyelenggaraan pemilu.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, Sigit Wibowo, menjelaskan salah satu penyebab tingginya indeks kerawanan adalah terbatasnya jumlah pasangan calon kepala daerah yang akan bertarung di Pilkada 2024.
“Hanya ada dua pasangan calon, sehingga persaingan akan lebih ketat. Kedua belah pihak pasti berupaya maksimal, dan ini berpotensi menimbulkan gesekan,” ujarnya.
Selain itu, keberagaman penduduk di Kaltim, yang terkenal heterogen, juga menjadi salah satu faktor yang diidentifikasi dalam IKP. Meski demikian, Sigit menekankan bahwa keberagaman ini seharusnya dianggap sebagai kekuatan, bukan kelemahan.
“Keberagaman kita selama ini terjaga dengan damai. Ini modal besar untuk memastikan pemilu mendatang tetap kondusif,” katanya.
Dalam IKP 2024, DKI Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai provinsi paling rawan. Namun, Sigit menyebut, situasi di Jakarta berbeda karena jumlah calon kepala daerah yang lebih banyak, sehingga dinamika politiknya lebih kompleks.
“Di Jakarta, persaingan cenderung menyebar karena banyaknya kandidat. Sementara di Kaltim, dengan hanya dua pasangan calon, potensi konflik lebih terkonsentrasi,” jelasnya.
Meski demikian, Sigit optimistis Pilkada 2024 di Kaltim akan berlangsung aman. Dirinya mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bersatu menjaga persatuan.
“Keamanan dan kelancaran pemilu adalah tanggung jawab bersama. Semua pihak harus berperan aktif,” tegasnya.
DPRD Kaltim juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif sosialisasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim dan Komisi II DPR RI untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Dengan target partisipasi sebesar 77,5 persen, upaya ini diharapkan dapat membalik tren rendahnya angka partisipasi pada pilkada sebelumnya.
“Partisipasi aktif masyarakat adalah kunci untuk mencegah potensi kerawanan. Dengan pemilu yang partisipatif, stabilitas dan keamanan dapat terjaga,” tutur Sigit.
Menutup pernyataannya, Sigit menyerukan semua pihak untuk menjaga Kaltim tetap damai dan kondusif. Sebab, Kaltim adalah rumah bersama. Maka dari itu, Sigit mengajak masyarakat jadikan momentum Pilkada 2024 sebagai momentum yang bermanfaat.
(Ikhsan/Adv/DPRDKaltim).









