Infonusa.co, Samarinda — Sampai saat ini terhitung di hari ketiga air masih merendam permukiman di Jalan Bengkuring, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara. Sejak Senin dini hari, warga setempat hidup berdampingan dengan genangan yang tak kunjung surut sepenuhnya.
Hingga Rabu (14/5/2025), meski air mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, ribuan warga masih berjibaku di tengah sisa genangan yang membatasi aktivitas sehari-hari. Beberapa di antaranya memilih tetap bertahan di rumah masing-masing, menjaga barang-barang mereka dari kemungkinan kerusakan atau pencurian.
Lurah Sempaja Timur, Yuliani, menyebut banjir kali ini memiliki cakupan cukup luas. Data yang dihimpun mencatat sebanyak 869 kepala keluarga terdampak, dengan total 757 rumah dan 2.585 jiwa. Ketinggian air pun bervariasi, dengan titik tertinggi mencapai 125 sentimeter.
“Pada hari ketiga ini, TMA sudah mulai turun. Tapi memang masih ada sejumlah RT yang tergenang. Kami terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan warga, terutama makanan siap saji,” terang Yuliani, pada Rabu (14/05/2025)
Setiap hari, dapur umum menyiapkan sekitar 1.000 porsi nasi bungkus yang dibagikan dalam tiga waktu. Bantuan tersebut sangat membantu warga yang kesulitan memasak, baik karena dapur tergenang maupun karena aliran listrik diputus demi keselamatan.
“Untuk saat ini fokus kami pada konsumsi dan bantuan pokok. Beberapa lansia yang sebelumnya kami evakuasi sudah dikembalikan ke rumah masing-masing karena air sudah mulai surut di beberapa titik,” tambahnya.
Menurut Yuliani, genangan di Bengkuring disebabkan oleh tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Namun bukan hanya itu, air juga datang dari kawasan lebih tinggi di Jalan Wahid Hasyim, yang kemudian mengalir ke Bengkuring.
“Air ini kayak balik arah. Dari Wahid Hasyim harusnya turun ke sungai, tapi karena Mahakam pasang, malah tertahan dan naik ke kita,” ihwalnya.
Di tengah situasi tersebut, warga seperti Effendy, yang tinggal di Jalan Terong Pipit 7, tetap bertahan meski rumahnya masih digenangi air setinggi lutut hingga paha orang dewasa. Ia menyebut air mulai masuk sejak Senin dini hari dan baru mulai surut sekitar 60 cm dari titik tertinggi.
“Sekarang tinggal tunggu benar-benar surut. Bantuan makanan sudah datang, tapi kebutuhan lain seperti selimut, obat-obatan, dan air bersih masih belum semua terpenuhi,” ucapnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian warga masih memilih tinggal di rumah, atau berpindah sementara ke lantai dua maupun ke rumah kerabat yang tidak terdampak. Sementara itu, BPBD dan dinas terkait terus melakukan pemantauan serta evakuasi bila diperlukan. Distribusi logistik dan kegiatan dapur umum pun masih terus berjalan.









