Infonusa.co, PPU – Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Thohiron, menyoroti pentingnya peran guru dalam membina karakter siswa bermasalah. Ia menolak pendekatan militeristik dalam pendidikan yang sempat diterapkan di Jawa Barat, dan menegaskan bahwa pembentukan karakter pelajar adalah ranah utama para pendidik.
“Sebagai mantan guru, saya yakin pembinaan karakter siswa tidak boleh lepas dari tangan guru. Pendidikan itu tugas mulia, bukan tugas lembaga luar sekolah,” tegas Thohiron baru-baru ini.
Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya anak putus sekolah karena alasan yang tidak prinsipil. Meskipun pendidikan telah digratiskan pemerintah, motivasi belajar justru makin lemah di kalangan pelajar.
“Dulu anak-anak rela jalan kaki lima kilometer ke sekolah. Sekarang, kalau tidak dibelikan motor, anak-anak enggan sekolah, padahal rumahnya cuma satu kilometer dari sekolah,” ujarnya.
Thohiron menilai fenomena tersebut mencerminkan pergeseran nilai dan pola pikir generasi muda. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan pembinaan yang edukatif, humanis, dan tidak menimbulkan trauma.
“Pendidikan karakter itu harus mendidik, bukan menakut-nakuti. Anak-anak bukan tentara, mereka harus dibentuk dengan kasih sayang dan keteladanan,” tambahnya.
Ia juga mengajak orang tua dan masyarakat untuk ikut aktif dalam menanamkan nilai disiplin dan semangat belajar kepada anak-anak sejak dini.
“Sekolah boleh gratis, tapi semangat belajar jangan gratisan. Ini tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.









