Infonusa.co, Penajam– Di tengah gelombang digitalisasi yang semakin masif, keberadaan perpustakaan konvensional menghadapi tekanan untuk beradaptasi. Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Mahyudin, menilai perlu strategi khusus agar perpustakaan tetap relevan dan mampu menjaga budaya literasi di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
“Teknologi informasi telah mengubah cara orang mengakses pengetahuan. Gawai dan media digital kini lebih diminati dibandingkan buku fisik,” ujarnya, Minggu (29/6/2025).
Menurut Mahyudin, perpustakaan harus merespons perubahan ini dengan pendekatan yang seimbang. Digitalisasi layanan perlu diintegrasikan tanpa menghilangkan fungsi konvensionalnya sebagai pusat literasi berbasis buku cetak.
“Harus bisa menggabungkan antara digital dan konvensional. Jadi ada keseimbangan yang menjaga semangat membaca tetap hidup,” jelasnya.
Ia menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan upaya peningkatan kualitas layanan dan akreditasi perpustakaan, termasuk penyediaan akses bacaan digital yang mudah dijangkau masyarakat.
“Peningkatan kualitas layanan itu penting. Bacaan digital harus tersedia, supaya masyarakat punya banyak pilihan,” kata Mahyudin.
Selain transformasi layanan, ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan untuk menanamkan budaya literasi sejak usia dini. Menurutnya, literasi adalah fondasi penting yang tidak boleh hilang di tengah arus zaman.
“Kalau tidak diantisipasi, budaya membaca bisa tergeser. Kita harus hadirkan perpustakaan yang adaptif, supaya tetap eksis dan dicintai generasi sekarang,” pungkasnya.









