DPRD PPU Soroti Ironi Tingginya Produksi Ikan di Tengah Angka Stunting yang Masih Tinggi

- Jurnalis

Selasa, 15 Oktober 2024 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Infonusa.co, Penajam Paser Utara – Penajam Paser Utara (PPU) memiliki produksi ikan yang melimpah, tetapi ironisnya, angka stunting di wilayah tersebut masih tergolong tinggi. Kondisi ini menjadi sorotan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PPU, yang mempertanyakan mengapa sumber protein yang melimpah tidak mampu menekan angka stunting di daerah itu.

Anggota DPRD PPU, Ishaq Rahman, menyatakan bahwa adanya sumber daya protein tinggi seperti ikan seharusnya bisa menjadi solusi dalam mengurangi angka stunting. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkan ketidaksesuaian yang menimbulkan pertanyaan besar.

“Produksi ikan kita besar, tapi angka stunting juga tinggi. Rasanya ini nggak sinkron, ya,” ungkap Ishaq.

Menurutnya, situasi ini menunjukkan adanya masalah dalam distribusi atau pemanfaatan hasil produksi pangan lokal. DPRD pun mempertanyakan, bagaimana bisa PPU dengan sumber protein yang begitu melimpah justru mengalami permasalahan kesehatan dasar seperti stunting.

Menurut Ishaq, angka stunting yang masih tinggi menunjukkan bahwa akses gizi yang seharusnya tersedia dari sumber protein lokal belum optimal.

Ishaq juga menyoroti bahwa kebutuhan gizi, terutama protein dari ikan, sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak untuk menghindari stunting.

“Kebutuhan akan gizi dan protein tinggi, tapi kita punya produksi ikan yang besar. Stunting masih jadi perdebatan yang nggak bisa selesai,” lanjutnya.

Ia menekankan pentingnya kajian mendalam untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi penyebab ketidaksesuaian ini. Ishaq mempertanyakan apakah produksi ikan yang melimpah sudah terdistribusi dengan baik ke masyarakat atau apakah ada faktor lain, seperti harga atau distribusi, yang membuat akses terhadap protein menjadi terbatas bagi kalangan tertentu.

Lebih jauh, Ishaq menyatakan bahwa isu stunting seharusnya tidak hanya dilihat dari status ekonomi masyarakat, tetapi juga dari pemahaman dan distribusi pangan bergizi. Ia memaparkan bahwa anggapan bahwa stunting hanya dialami oleh keluarga kurang mampu tidak selalu benar.

“Apakah ada jaminan bahwa anak orang kaya tidak stunting? Atau jaminan bahwa orang miskin pasti stunting? Ini kan jadi perdebatan yang nggak ada ujungnya,” ujarnya.

Ishaq melihat bahwa penyebab stunting bisa lebih kompleks, melibatkan aspek-aspek distribusi gizi yang tidak merata, pemahaman gizi di kalangan masyarakat, hingga kebijakan pemerintah yang kurang responsif terhadap kebutuhan lokal. ADV/IB

Berita Terkait

Penguatan Kapasitas Fiskal Jadi Fondasi Pembangunan Berkelanjutan di PPU
PPU Dorong Transformasi Tata Kelola Fiskal untuk Tingkatkan Efektivitas Pembangunan
PPU Bahas Strategi PAD dan DBH untuk Perkuat Daya Saing sebagai Gerbang IKN
Syahruddin M Noor Ajak Pemuda PPU Jadi Generasi Bergerak dan Inovatif
Balikpapan Catat Inflasi Ringan, PPU Alami Deflasi Akibat Melimpahnya Pasokan Pangan
PPU Bahas Strategi PAD dan DBH untuk Perkuat Daya Saing sebagai Gerbang IKN
PPU Bahas Strategi PAD dan DBH untuk Perkuat Daya Saing sebagai Gerbang IKN
Balikpapan Catat Inflasi Ringan, PPU Alami Deflasi Akibat Melimpahnya Pasokan Pangan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 November 2025 - 12:04 WIB

Penguatan Kapasitas Fiskal Jadi Fondasi Pembangunan Berkelanjutan di PPU

Jumat, 7 November 2025 - 12:01 WIB

PPU Dorong Transformasi Tata Kelola Fiskal untuk Tingkatkan Efektivitas Pembangunan

Kamis, 6 November 2025 - 11:35 WIB

PPU Bahas Strategi PAD dan DBH untuk Perkuat Daya Saing sebagai Gerbang IKN

Jumat, 10 Oktober 2025 - 21:17 WIB

Syahruddin M Noor Ajak Pemuda PPU Jadi Generasi Bergerak dan Inovatif

Senin, 6 Oktober 2025 - 11:57 WIB

Balikpapan Catat Inflasi Ringan, PPU Alami Deflasi Akibat Melimpahnya Pasokan Pangan

Berita Terbaru