Infonusa.co, KUTAI KARTANEGARA — Kesesuaian fasilitas dengan kondisi lahan kelompok tani menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dalam pelaksanaan program lantai jemur portable. Evaluasi dilakukan agar bantuan untuk penanganan pascapanen padi dan jagung dapat dimanfaatkan lebih banyak petani.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan fasilitas tersebut dirancang untuk membantu petani mengeringkan hasil panen tanpa harus menyediakan lahan permanen. Namun, ukuran unit yang tersedia saat ini masih menjadi tantangan bagi kelompok tani yang memiliki keterbatasan ruang.
Satu unit lantai jemur portable saat ini berukuran 4 x 25 meter dengan kapasitas sekitar dua ton untuk sekali penjemuran. Ukuran tersebut dinilai perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan agar penempatan fasilitas lebih memungkinkan.
Ananias mencontohkan kelompok tani di wilayah Bukit Biru yang sempat kesulitan menemukan lahan cukup luas untuk menempatkan fasilitas tersebut. Sebagai alternatif, Disketapang menyarankan lokasi di ujung jalan usaha tani dan membuka peluang penyesuaian ukuran pada pengadaan berikutnya.
“Setelah ada permohonan dari kelompok tani, kami akan mengecek kondisi di lapangan, termasuk kebutuhan dan ketersediaan lahannya,” ungkap Ananias, Senin (12/10/2026).
Ia mengatakan, penyesuaian ukuran diharapkan membuat fasilitas lebih mudah ditempatkan dan dimanfaatkan oleh kelompok tani dengan kondisi lahan yang berbeda-beda.
Program lantai jemur portable sendiri merupakan bagian dari dedikasi Kukar Idaman Terbaik dengan target pengadaan 500 unit selama masa kepemimpinan bupati. Fasilitas ini ditujukan untuk mendukung penguatan lumbung pangan melalui penanganan pascapanen, terutama komoditas padi dan jagung.
Berbeda dengan lantai jemur permanen, fasilitas portable dapat dipindahkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan tempat. Biayanya juga dinilai lebih rendah karena tidak mengharuskan petani memiliki lahan khusus untuk pembangunan fasilitas permanen.
Menurut Ananias, konsep lantai jemur tersebut diadaptasi dari teknologi tunnel untuk pengeringan garam di Jawa Timur, kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan petani di Kukar. Meski berpotensi digunakan untuk komoditas lain seperti ikan, rumput laut, dan kopi, program yang berjalan saat ini difokuskan pada padi dan jagung.
Dari sisi realisasi, pengadaan hingga akhir 2025 telah mencapai lebih dari 100 unit. Fasilitas tersebut telah disalurkan ke sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Tenggarong, Anggana, Muara Kaman, dan Tenggarong Seberang.
Namun, pengadaan belum kembali dilaksanakan pada 2026. Dengan target 500 unit, kebutuhan yang belum terpenuhi masih lebih dari 300 unit.
Ananias mengatakan Disketapang tetap berupaya mencari peluang dukungan agar program dapat berlanjut, termasuk melalui komunikasi dengan pihak swasta dan pemangku kepentingan lainnya.
“Efisiensi bukan menjadi alasan untuk kami berdiam diri. Kami tetap berkomunikasi dengan pihak swasta dan stakeholder lainnya agar program-program yang sudah direncanakan tetap bisa sampai kepada masyarakat,” tegasnya.
Melalui evaluasi ukuran dan penjajakan dukungan pengadaan, Disketapang Kukar berharap bantuan lantai jemur portable dapat menjawab kebutuhan petani secara lebih tepat. Dengan demikian, pencapaian target jumlah unit dapat berjalan seiring dengan kesesuaian fasilitas dan kondisi lahan penerima. (Adv/fi)










