Infonusa.co, KUTAI KARTANEGARA — Pengembangan sorgum dan jelai di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) direncanakan menjangkau lebih banyak kelompok tani. Setelah menyiapkan pengembangan di dua kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan (KPT), Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar membidik perluasan budidaya kedua komoditas tersebut bersama kelompok wanita tani (KWT) di 20 kawasan.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan perluasan ini diarahkan untuk mengenalkan sumber karbohidrat alternatif sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal. Langkah tersebut sejalan dengan program Stop Boros Pangan dan kampanye “Kenyang Tidak Harus Nasi”.
“Kalau kita mau mandiri pangan, kita tidak boleh hanya tergantung kepada beras. Kita harus melakukan penganekaragaman. Salah satunya melalui diversifikasi pangan dengan memberdayakan pangan-pangan lokal kita,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
Sebagai tahap awal, pengembangan sorgum dan jelai direncanakan berlangsung di KPT Desa Sumber Sari dan Karang Tunggal. Kegiatan tidak hanya mencakup budidaya, tetapi juga diarahkan hingga proses panen, pengemasan, dan pemasaran agar hasilnya berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan.
Jelai telah lama dikenal masyarakat Kutai, khususnya masyarakat Dayak. Sementara sorgum yang berasal dari luar daerah dinilai berpotensi dibudidayakan di Kukar dengan memperhatikan kesesuaian tanah dan iklim.
Ananias menjelaskan, kedua komoditas tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Strategis Disketapang Kukar periode 2025–2029. Pengembangannya diharapkan memperluas pilihan bahan pangan yang dapat diolah dan dikonsumsi masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah cara pengolahan sorgum agar lebih mudah diterima sebagai pengganti beras. Sorgum putih yang telah diolah dapat memiliki tampilan menyerupai nasi dan dimasak menggunakan peralatan rumah tangga.
“Kalau sorgum putih, cara memasaknya cukup mudah. Direndam satu malam, kemudian dimasukkan ke magic com, sudah bisa menjadi nasi,” jelasnya.
Selain sebagai sumber karbohidrat alternatif, sorgum juga memiliki potensi pemanfaatan pada bagian tanaman lainnya. Bijinya dapat diolah menjadi bahan pangan, sedangkan batangnya berpotensi menghasilkan cairan manis yang dapat diproses lebih lanjut.
Menurut Ananias, budidaya sorgum dan jelai juga berpeluang dilakukan di lahan yang tidak harus berupa persawahan dengan pasokan air seperti yang dibutuhkan tanaman padi. Meski demikian, pengembangannya tetap perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan teknik budidaya masing-masing komoditas.
Perluasan ke 20 kawasan bersama KWT menjadi langkah lanjutan yang direncanakan Disketapang Kukar untuk memperkenalkan kedua tanaman tersebut kepada masyarakat. Keberlanjutan program nantinya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan budidaya, tetapi juga kemampuan mengolah dan memasarkan hasil panen.
Melalui pengembangan tersebut, Disketapang Kukar berharap sorgum dan jelai dapat semakin dikenal sebagai alternatif pangan lokal.
Upaya ini sekaligus diarahkan untuk memperluas keragaman konsumsi masyarakat dan mendukung kemandirian pangan daerah. (Adv/fi)










